RSS
Write some words about you and your blog here

Trafficking (perdagangan manusia)

Fenomena Trafficking (perdagangan manusia) mulai menjadi marak. Negara-negara berkembang menjadi target bagi para mafia yang terlibat. Bagaimana strategi untuk menghentikannya? Mari kita simak.

ScienceDaily (Mei 27, 2008) – Perdagangan manusia bukanlah fenomena baru, namun adalah manifestasi modern dari perbudakan, demikian menurut peneliti Amerika Serikat. Bagaimanapun, dalam tulisan mereka di Journal of Global Business Advancement, mereka mengaris bawahi bahwa human trafficking dan perdagangan organ manusia telah menjadi intensif sejalan dengan meningkatnya arus globalisasi. Mereka berharap untuk meningkatkan kesadaran terhadap isu ini diantara komunitas riset bisnis, dengan harapan untuk menemukan solusi.

Eksploitasi

Adalah fakta tragis, bahwa rakyat yang paling tidak beruntung adalah yang sering dieksploitasi. Dengan melihat ‘rumput yang lebih hijau’ pada negara asing, banyak dari mereka rela mengorbankan diri untuk diselundupkan dan menghamburkan tabungan mereka untuk diselundupkan menembus perbatasan dengan dokumen palsu. Mereka sering meninggalkan keluarga, berharap untuk mengiriman uang ke tanah air, namun justru sering berakhir pada cengkraman para penyelundup dan diperbudak pada pekerjaan yang dibayar murah dan dengan akomodasi yang buruk. Mereka juga sering bersembunyi dari incaran aparat imigrasi.

Sekarang, Patriya Tasuhaj dari Departemen Marketing dan Institut Bisnis internasional pada Universitas negeri Washington, dan Jim McCullough dari Universitas Puget Sound, Tacoma menganjurkan bahwa perdagangan manusia internasional adalah sisi gelap dari bisnis internasional. Mereka mengklaim bahwa masalah ini telah lama tidak diperdulikan oleh komunitas peneliti bisnis internasional.

‘Akademisi bisnis internasional tidak bisa menyerahkan begitu saja pemahaman terhadap fenomena ini di tangan ilmu politik, sosiolog, atau antropolog,’ Demikia kata mereka. ‘Kita harus secara aktif terlibat dalam menyediakan penjelasan sistimatis dengan rekomendasi kepada pemerintah dan sektor bisnis global.’

Asumsi

Para peneliti melihat ada asumsi yang beredar bahwa globalisasi hanya memiliki efek positif pada individu dan masyarakat di seluruh dunia. Pandangan dunia ini terlalu simplistis dan tidak realistis, demikian kata para peneliti, dan mengabaikan sisi gelap dari bisnis internasional pada kerusakan legalitas dan etika. Mereka mensitasi contoh dari Orang Laos yang masih muda, yang menyebrangi sungai Mekong ke Thailand dan bermimpi untuk mendapatkan hidup baru tanpa kemiskinan. Penyebrangan perbatasan ilegal difasilitasi oleh kriminal yang memperdagangkan manusia adalah umum disitu dan di Amerika, Asia, Afrika, dan Eropa.

Tansuhaj dan McCullough menggaris bawahi bahwa perdangan manusia tidak dibatasi pada individual yang menyebrangi perbatasan, namun juga melibatkan penjualan bagian tubuh, dan perdagangan pornografi dengan kekerasan. Mereka telah mengklasifikasikan penelitian umum pada masalah perdagangan manusia internasional yang dapat memperbolehkan ilmuwan sosial atau lainnya untuk menganalisa bagaimana perdagangan seperti itu terjadi pada konteks familiar produk, harga, tempat, dan promosi, sehingga dapat mengembangkan pemahaman yang lebih jelas terhadap perdagangan manusia dengan solusinya.

0 komentar:

Poskan Komentar