RSS
Write some words about you and your blog here

KECERDASAN KOGNITIF (IQ) ANAK DAN STRATEGI PENYUBURANNYA

KECERDASAN KOGNITIF (IQ) ANAK DAN STRATEGI PENYUBURANNYA

Kecerdasan Kognitif (IQ)



Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan bernalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan belajar. Kecerdasan erat kaitannya dengan kemampuan kognitif yang dimiliki individu. Kecerdasan dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ.

Setelah mengetahui tingkat kecerdasan melalui tes IQ itu, kita tidak bisa langsung menyimpulkan tentang kecerdasan seorang anak karena tingkat intelegensi anak bukan sebuah harga mati, namun bisa diupayakan.

Selama ini tingkat intelegensia menjadi bagian terpenting dari perkembangan seseorang. Jika seseorang memiliki orang tua yang cerdas kelak anak mewarisinya. Sebaliknya, jika orang tua berenang di tempat dangkal kemungkinan anak tidak berkesempatan menyelam lebih dalam. Asumsi tradisional ini menganggap potensi kecerdasan inteligensia terbatas pada saat anak lahir. Kemudian lahirlah pandangan modern terhadap inteligensia berdasarkan kapasitas otak seseorang. Artinya anak akan belajar dari pengalaman jika orang tua memfasilitasi anak yang kelak berdampak besar bagi inteligensia dan potensinya?

Dr. Howard Gardner, seorang psikologi dari Universitas Harvard, AS, mengemukakan teorinya bahwa kecerdasan tidak terpatri di tingkat tertentu dan terbatas saat seseorang lahir. “Setiap orang mengembangkan kecerdasan dengan beragam cara yang dikenal dengan multiple intelligence,” katanya. Seperti, Mozart adalah pemusik jenius, seorang komposer sekaligus symphonies yang menjadi salah satu contoh pemilik kecerdasan musikal. Sedangkan, Einstein adalah salah satu ilmuwan dunia yang memiliki kecerdasan logika dan matematika. Apakah Einstein lebih cerdas dibanding Mozart? Jika ditilik dari teori multiple inteligensia, Einstein dan Mozart sama-sama cerdas tapi berbeda bidang. Jadi anak Anda pun berkesempatan mengembangkan kecerdasannya di berbagai bidang.

Gardner menemukan delapan kecerdasan, yaitu cerdas bahasa, cerdas logika/matematika, cerdas visual-spasial, cerdas musik, cerdas gerak, cerdas alami, cerdas sosial, dan cerdas diri. Setiap orang berpotensi memilikinya, namun perkembangannya berbeda-beda.

Mungkin saja tidak semua anak berpotensi menjadi Einstein, tapi sudah kewajiban orangtua untuk berusaha mengembangkan pola unik tiap kecerdasan anak. Teori Howard menjadi acuan setiap sekolah dan guru. Selama bertahun-tahun, pendidik mengembangkan arahan strategi agar kegiatan belajar makin menarik. Sekolah mengadopsi mulitiple Intelligence melalui laporan pendekatan akademik tes yang mencakup area kecerdasan seni, musik, edukasi fisik, hubungan sosial, pemahaman akan diri sendiri, dan menyukai alam.

Sebagai orangtua, Anda mungkin bertanya, bagaimana cara membantu anak belajar. Jawabannya banyak! Anda bisa membantu anak tumbuh lebih cerdas dengan mengeksplorasi anak dengan beragam aktivitas. Ada beberapa ide untuk mengembangkan kecerdasan balita yang bisa Anda terapkan di rumah.

Memperkaya otak anak

Ada sebuah artikel yang memaparkan sebuah studi klasik. Beberapa ilmuwan menguji tikus percobaan yang tumbuh di lingkungan berbeda. Tikus A tumbuh di lingkungan yang dipenuhi mainan, sedangkan tikus B tidak. Tebak tikus mana yang lebih pintar? Yaitu tikus A. Tikus A bisa keluar dari lorong teka teki lebih cepat dibandingkan tikus B. Para ahli juga menemukan perubahan pada struktur otaknya. Otak berkembang secara penuh dan lebih berbobot pada tikus A. Baru-baru ini, penelitian tersebut diujikan kepada hewan primata yang memiliki konsep saraf plasticity mirip manusia. Kesimpulannya, seseorang tumbuh dengan keseimbangan otak lebih baik jika difasilitasi beragam pengalaman.

Disini peran prang tua sangat dibutuhkan. Kecerdasan anak tidak hanya bersumber dari pemenuhan nutrisi yang seimbang tetapi juga disertai pemberian stimulasi pada anak. Anak yang cerewet, kritis dan senang bercerita, apabila mendapat asuhan yang tepat akan memiliki kepintaran verbal linguistik, yaitu anak yang mampu berinteraksi dan meyakinkan orang di sekitarnya.

Orang tua tidak boleh terlalu memaksakan keinginan mereka pada anak, sehingga anak tidak dapat mengembangkan kemampuan secara optimal, misalnya jika anak kurang cerdas di bidang matematika, tapi anak berbakat di bidang olahraga yang disebut cerdas gerak (kinestetik). Oleh karena itu orangtua tidak boleh terlambat mengetahui potensi anak, karena dapat menghambat kecerdasannya kelak.

Memperkaya Lingkungan Rumah

Agar anak berkesempatan mengembangkan potensi kecerdasannya, maka lingkungan rumah perlu disulap dengan beragam kegiatan dan fasiltas. Berikut beberapa saran untuk menciptakan lingkungan rumah yang kondusif bagi perkembangan inteligensi anak. Bagian terpenting untuk menemani anak belajar adalah kehadiran Anda. Sebagai orangtua, Anda adalah peracik lingkungan belajar anak. Kecerdasan dikonstruksikan melalui interaksi anak dengan mainannya. Tidak peduli betapa menariknya permainan tersebut semua akan sia-sia, tanpa didukung oleh kesediaan waktu Anda bermain dengan mereka. Ada beberapa ide yang bisa Anda lakukan bersama si kecil.

* Bahasa/Linguistik

- Cinta Buku. Salah satu kegiatan yang disukai anak adalah kegiatan membaca. Untuk anak usia prasekolah mulai perkenalkan dengan buku cerita dongeng puisi sederhana, bacaan untuk anak. Saat usia sekolah, perkenalkan anak dengan majalah anak, novel, komik, dan ensiklopedi.

- Televisi. Percaya atau tidak, tv bisa mendemontrasikan banyak hal melalui acara program edukasi, atau DVD. Atau anak belajar membaca melalui teks dialog yang ditampilkan di layar tv.

- Banyak menulis. Dukung kegiatan menulis dengan menyediakan kertas, bolpoin, pensil dan krayon.

* Logika/Matematika

- Sediakan instrumen matematik, Biarkan anak bereksplorasi dengan kompas, penggaris, skala, gelas ukur.

- Gunakan peralatan. Alat berhubungan dengan kecerdasan logika dan gerak tubuh anak. Setiap peralatan memerlukan pemahaman logika untuk menggunakannya. Dorong anak untuk belajar menggunakan banyak peralatan.

- Komputer. Anak Anda pasti suka memencet tombol atau bermain games. Pada anak usia sekolah sudah mulai bisa diajarkan membuat database, surfing website atau belajar Microsoft. Yang bisa membangun pengaturan logika dan struktur anak.

* Visual/Spasial

- Sediakan alat kerajinan tangan. Sangat menyenangkanjika anak berhasil membuat sesuatu dengan kertas-kertas, krayon, gunting dan lem.

- Sediakan alat melukis. Mulai ajari anak melukis dengan menggunakan jari-jarinya lalu lanjut menggunakan cat air, akrilik dan cat minyak.

- Menggunakan Software. Bisa juga anak menggambar dan membuat ilustrasi menggunakan komputer.

* Musikal/Ritme

- Pemain musik. Studi menemukan anak yang mendengarkan musik Mozart selama 10 menit, akan lebih baik di kegiatan spasial. Penelitian menunjukkan beberapa jenis musik tertentu dapat meningkatkan kecerdasan anak.

- Alat Instrumen. Penelitian membuktikan bermain musik tak hanya meningkatkan kecerdasan musik anak tapi juga bisa mengembangkan bagian otak.

- Berkaraoke. Fasilitasi anak dengan beragam lagu yang bisa dinyanyikannya.


* Gerak tubuh/Kinestetik

- Lemari Kostum. Kembangkan imajinasi anak dengan bermain sebagai actor menggunakan kostum dan make up.

- Peralatan Olahraga. Peralatan olahraga dan permainan membantu mengembangkan koordinasi mata-tangan dan mengembangkan kemampuan gerak motorik anak. aktivitas fisik juga berperan dalam perkembangan cerebellum, bagian otak yang mengatur beberapa fungsi motorik juga daya ingat, konsentrasi, persepsi spasial, dan bahasa.

- Aktivitas gerak motorik halus. Mengembangkan kemampuan motorik halusnya dengan kegiatan menjahit, merajut, menggambar atau kegiatan lain yang menggunakan keterampilan jari tangan dan kakinya.

* Naturalis/alam

- Kolam ikan. Coba masukan tangannya ke kolam ikan atau akuarium. Hati-hati jangan sampai anak measukan tangannya ke mulut.

- Binatang piaraan. Memelihara binatang piaraan merupakan cara terbaik anak berinteraksi dengan hewan. Anak belajar kebiassan, karakteristik, dan perbedaan sifat hewan.

- Kebun. Sekuntum bunga atau kebun tanaman bisa dijadikan perjalanan seru. Anda juga bisa mengajarkan tanaman di pot.

- Peralatan observasi. Melihat dengan teleskop atau menggunakan gelas ukur atau mikroskop untuk menganalisa.

* Intrapersonal

- Hargai privasi anak. Kadang anak memerlukan waktu untuk sendiri tanpa berinteraksi atau gangguan dari luar. Anak hanya ingin mendengarkan pikirannya sendiri. Apakah ada tempat anak merenung di rumah? Mungkin di kamar atau kebun.

- Hobby station. Dukung anak menyalurkan hobinya. Anda bisa mengikutsertakan anak ke kelas fotografi, jurnalis, vocal. Musik, menggambar, untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonal anak.

- Area belajar. Sebuah area anak bisa menikmati waktunya dengan menulis diari atau menempatkan barang-barang pribadinya.

Melihat beberapa tips di atas mungkin banyak dari Anda yang sudah menerapkannya. Artinya anak hidup di lingkungan belajar yang kondusif. Jika perhatian Anda luput pada suatu hal, Anda bisa menyeimbangkannya dengan memberi investasi berikutnya untuk mengembangkan edukasi dan otak anak. Ingat elemen terpenting meningkatkan kecerdasan anak adalah apa yang anak dan Anda lakukan bersama bukan hanya apa yang mereka dapat.

Bagaimana Cara Menyuburkan IQ anak

Setelah mengetahui berbagai bentuk kecerdasan anak, maka yang terpenting sekarang adalah menjawab pernyataan bagaimana cara menyuburkan IQ anak? Untuk menjawab pertanyaan tadi, nberikut secara berturut-turut diuraikan di bawah ini.

1. Pelihara Kebiasaan Bertanya

Rasa ingin tahu biasanya selalu dimiliki oleh setiap anak. Dorongan untuk mengetahui sesuatu itulah yang menyebabkan anak banyak mengeluarkan berbagai pertanyaan kepada orang tua/guru. Sebagai orang tua, diharapkan tidak mematikan rasa ingin tahu anak dengan cara melarangnya, atau bahkan memberi label kepada anak, yang cerewet, banyak bicara, banyak tanya, dan lain-lain yang dapat mematikan keberanian anak untuk bertanya. Sebagian orang mempercayai, bahwa seorang anak yang banyak bertanya tentang ini dan itu, merupakan indikasi, bahwa anak itu memiliki kecerdasan yang tinggi. Oleh karena itu, orang tua harus selalu bijaksana dan berusaha menjawab berbagai pertanyaan anak-anak, sehingga anak memperoleh kepuasan batin, dan dengan kepuasan batin itu memotivasi anak untuk selalu mengembangkan pengetahuan dan daya khayalnya.

Sebagai seorang guru, dalam upaya mengembangkan IQ anak, dituntut untuk menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, menyenangkan dan menantang sehingga menggugah peserta didik selalu siap dengan berbagai pertanyaan yang konstruktif.

1. Ketahui Modalitas Belajar Anak

Banyak orang tua dan guru yang tidak mengetahui modalitas belajar anak-anaknya. Padahal, dengan cara mengetahui modalitas belajar anak, proses pembelajaran akan dapat mencapai hasil yang optimal. Diantara modalitas belajar anak itu adalah anak bertipe visual, tipe auditorial, dan anak tipe kinestetik.

* Anak Bertipe Visual

Berbagai gejala yang dapat ditunjukkan bagi anak yang bertipe visual antara lain rapi dan teratur, berbicara dengan cepat, perencana dan pengatur jangka panjang yang baik, teliti terhadap detil, mementingkan penampilan, dapat melihat kata-kata, dalam pikiran, mengingat apa yang dilihat, mengingat asosiasi visual, tidak terganggu oleh keributan, pembaca cepat dan tekun, mencoret-coret saat telepon/pertemuan, lebih suka demonstrasi daripada pidato, tidak pandai memilih kata-kata, dan tidak suka musik.

Anak yang bertipe visual mempunyai. cara belajar dengan melihat. Bagi anak yang bertipe ini, orang tua/guru tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada anak untuk belajar dengan cara yang lain. Belajar, bagi anak bertipe ini akan efektif jika pembelajaran menggunakan media, seperti kertas warna, menggunakan gambar­gambar, dan yang terpenting diciptakan lingkungan pembelajaran yang tenang, tidak gaduh, tidak berisik, dan tidak bising.

* Anak Bertipe Auditorial

Fenomena menonjol bagi anak yang bertipe auditorial antara lain, berbicara sendiri saat bekerja, mudah terganggu oleh keributan, menggerakkan bibir saat membaca, senang membaca dengan keras dan mendengarkan, dapat menirukan dan mengulangi nada suara, kesulitan menulis dan hebat dalam bercerita, bicara dengan irama terpola, pembicara yang fasih, suka musik, belajar dengan mendengarkan, suka bicara, diskusi, lebih suka gurauan lisan daripada baca komik.

Bagi anak yang bertipe auditorial, belajar yang terbaik adalah dengan cara mendengarkan. Oleh karena itu, perlakuan yang dapat diberikan bagi anak bertipe ini adalah, guru harus menggunakan variasi vokal dalam proses pembelajaran, guru harus sering mengulang-ulang materi pelajaran yang sama, belajar sambil bernyanyi, dan guru menciptakan suasana pembelajaran dengan diiringi musik.

* Anak Bertipe Kinestetik

Ada beberapa perilaku menonjol yang dapat ditunjukkan anak yang bertipe kinestetik. Antara lain, berbicara dengan perlahan, menyentuh orang untuk dapat perhatian, berdiri dekat ketika berbicara dengan orang, berorientasi pada fisik dan banyak bergerak, mempunyai perkem­bangan awal otot yang besar, belajar melalui praktik, menghafal dengan cara berjalan dan melihat, menggunakan jari pada saat membaca, banyak menggunakan isyarat tubuh, tidak dapat duduk diam untuk waktu yang lama, mudah mengingat jika pernah melakukan, kemungkinan tulisannya jelek, ingin melakukan segala sesuatu, dan menyukai permainan yang menyibukkan.

Cara belajar yang efektif bagi anak bertipe ini adalah dengan cara bergerak, belajar sambil bekerja, dan belajar dengan menyentuh. Sedangkan perlakuan yang dapat diberikan guru antara lain, guru menggunakan alat bantu/peraga dalam mengajar, menggunakan metode simulasi, praktikum, mengajak bicara pada anak, ceritakan pengalaman yang mengesankan, dan ijinkan anak berjalan-jalan di kelas ketika proses pembelajaran berlangsung.

1. Pupuk Kegemaran Membaca

Membaca adalah jendela dunia, jika diuraikan arti dari ungkapan tadi adalah, bahwa dengan membaca, pembaca akan mengetahui .berbagai informasi dari segala penjuru dunia. Dalam kaitannya dengan usaha menyuburkan IQ anak, maka tidak ayal lagi, betapa pentingnya kegiatan membaca. Yang menjadi problem sekarang adalah, bagaimana orang tua/ guru memupuk kegemaran membaca anak-anak?

Yang dapat dilakukan orang tua di rumah untuk memupuk kegemaran membaca anak adalah dengan cara mengkondisikan dalam kehidupan anak dengan buku. Anak dikenalkan dengan buku-buku, diluangkan waktu untuk sekedar membacakan cerita bagi anak, dan orang tua harus dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal kebiasaan membaca.

Sedangkan bagi guru di sekolah, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memupuk kegemaran membaca anak antara lain dengan menciptakan suasana perpustakaan yang menyenangkan bagi anak, memberi tugas membuat sinopsis, mengadakan lokakarya membaca di kelas, dan yang terpenting guru bersedia mengeluarkan sedikit isi sakunya (uang) sekedar alat penguatan bagi siswa yang mempunyai kegemaran dan kemampuan membaca paling tinggi.

1. Beri Gizi yang Cukup

Untuk memiliki anak yang ber IQ tinggi, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan memberi gizi yang cukup kepada anak tersebut. Oleh karena itu, dipandang sangat tepat jika pemerintah mengusahakan kembali Program Makanan Tambahan bagi Anak Sekolah seperti yang sudah pernah dilaksanakan pada era yang lalu. Betapa pun tinggi potensi kecerdasan anak yang dibawa sejak lahir, jika tidak didukung dengan usaha dan upaya secara sungguh-sungguh untuk menyuburkan potensi itu, maka potensi yang gemilang itu tidak akan tumbuh dengan optimal.


Kesimpulan

Kecerdasan yang dimiliki seseorang itu bisa diukur melalui tes IQ, namun hasil yang diperoleh dari tes tersebut bukan merupakan harga mati dari kecerdasan seseorang karena kecerdasan bisa diupayakan.

Dulu intelegensi dipandang sebagai warisan dari orang tua, namun kini telah muncul pandangan modern yang menyatakan bahwa intelegensi berdasarkan kapasitas otak seseorang artinya anak akan belajar dari pengalaman jika orang tua memfasilitasi anak yang kelak berdampak besar bagi intelegensi dan potensinya.

Kecerdasan bisa dibagi menjadi 8 bentuk yaitu cerdas bahasa, cerdas logika/matematika, cerdas visual/spasial, cerdas musik, cerdas gerak, cerdas alam, cerdas sosial dan cerdas diri. Bentuk-bentuk kecerdasan tersebut bisa dikembangkan sejak anak usia balita melalui asuhan orang tua.

Agar IQ anak dapat berkembang dengan dengan lebih optimal dan subur, maka orang tua/guru harus memelihara kebiasaan bertanya, mengetahui modalitas belajar anak, memupuk kegemaran membaca anak, dan memberi gizi yang cukup.

0 komentar:

Poskan Komentar